Pembukaan
Membandingkan Proses Plagiarism Check di Jurnal Sinta dan Scopus adalah perhatian utama bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa pascasarjana yang ingin memastikan naskahnya memenuhi standar etika publikasi. Kesalahan pada tahap similarity dapat menyebabkan desk-reject atau penundaan panjang—masalah umum yang sering dialami penulis akademik. Artikel ini membahas secara mendetail prosedur, alat, ambang batas, serta strategi mitigasi untuk memperkecil risiko penolakan.
Mengapa Plagiarism Check Penting untuk Publikasi Ilmiah?
Plagiarism check bukan sekadar formalitas administratif; ini bagian dari quality control yang memastikan orisinalitas, akurasi sitasi, dan integritas ilmiah. Lembaga penerbit dan indekser menggunakan similarity screening untuk mendeteksi duplikasi teks, auto-plagiarism, dan potensi pelanggaran etika. Selain itu, laporan kesamaan (similarity report) sering menjadi bahan diskusi reviewer dan editor saat memutuskan langkah editorial berikutnya (pre-submission review, desk review, peer review).
Gambaran Umum: SINTA vs Scopus (Problem → Solution → Benefit)
Secara garis besar, perbedaan antara jurnal terindeks SINTA dan jurnal yang terindeks Scopus lebih banyak terkait kebijakan penerbit, tingkat ketelitian pemeriksaan, dan ekspektasi internasional. Di sini kita uraikan problem umum, bagaimana proses dijalankan di masing-masing ekosistem, dan manfaat yang dapat diperoleh penulis ketika memahami perbedaan ini.
Problem Utama
- Beragamnya alat pemeriksaan (Turnitin, iThenticate, atau sistem lokal) menyebabkan hasil similarity yang berbeda.
- Ambang batas (threshold) yang berbeda-beda: satu jurnal SINTA bisa menerima similarity 25% sedangkan jurnal Scopus bereputasi sering menargetkan <15%.
- Perbedaan interpretasi: persentase similarity tidak selalu berarti plagiarism—bisa termasuk sitasi yang valid, frasa teknis, atau metodologi standar.
Solusi Editorial yang Umum
- Penerapan pre-submission review untuk menurunkan similarity sebelum submit resmi.
- Penggunaan iThenticate di jurnal bereputasi internasional untuk konsistensi (impact-driven journals sering memakai iThenticate).
- Pedoman remediasi yang jelas: para editor meminta para penulis untuk menurunkan similarity dengan parafrase, sitasi lengkap, atau menghapus bagian duplikat.
Benefit bagi Penulis
- Meningkatkan peluang lolos desk review dan mempercepat proses peer review.
- Mengurangi risiko pelanggaran etik yang dapat memengaruhi reputasi akademik.
- Memperkuat kualitas naskah sehingga lebih layak untuk target jurnal bereputasi (impact factor quartile).
Detail Perbandingan Proses Plagiarism Check
1. Alat yang Umum Digunakan
- Jurnal terindeks SINTA: Praktik bervariasi. Banyak penerbit nasional memakai Turnitin atau sistem internal yang terintegrasi dengan repository nasional seperti GARUDA. Pilihan alat bergantung pada penerbit (universitas, asosiasi, atau penerbit komersial).
- Jurnal terindeks Scopus: Kebanyakan jurnal internasional bereputasi menggunakan iThenticate sebagai standar karena basis data yang luas meliputi publikasi internasional.
2. Ambang Batas dan Kebijakan
Ambang batas similarity bersifat kebijakan editorial. Contoh praktik umum (bukan aturan baku):
- Jurnal SINTA (nasional): threshold sering berkisar 15–30% tergantung fokus jurnal dan jenis artikel (review vs original research).
- Jurnal Scopus (internasional/bereputasi tinggi): threshold lebih ketat, umumnya <20% dan untuk banyak jurnal top diusahakan <15%.
Penting: Persentase similarity harus dianalisis konteksnya. Contoh: 18% similarity yang terdiri dari sitasi yang benar dan metodologi standar berbeda konsekuensi dibanding 12% yang berisi paragraf yang disalin dari karya lain tanpa sitasi.
3. Tahapan Pemeriksaan
- Pre-submission: Penulis dianjurkan melakukan pemeriksaan awal (mis. Turnitin, iThenticate) sebelum submit. Ini mengurangi risiko desk-reject.
- Desk screening editorial: Editor melakukan pemeriksaan similarity sebagai bagian dari triage awal—jika similarity tinggi, naskah dapat langsung ditolak atau dikembalikan untuk revisi.
- Peer review: Reviewer juga bisa memeriksa orisinalitas dan meminta klarifikasi atau perbaikan jika menemukan overlap yang meresahkan.
- Post-acceptance: Beberapa penerbit melakukan pengecekan akhir sebelum final layout untuk memastikan tidak ada masalah etika tersisa.
4. Penanganan Hasil Similarity
Contoh skenario dan rekomendasi tindakan:
- Similarity rendah (<10%): Umumnya aman; pastikan semua kutipan dan referensi lengkap.
- Similarity sedang (10–25%): Analisa manual diperlukan. Perbaiki parafrase, tambahkan kutipan, atau hapus bagian yang tidak mendesak.
- Similarity tinggi (>25–30%): Editor sering meminta penjelasan; jika overlap signifikan tanpa sitasi, risiko penolakan tinggi dan potensi pelanggaran etika meningkat.
Contoh Kasus: Studi Perbandingan Praktis
Berikut contoh konkret untuk ilustrasi:
- Penulis A submit ke jurnal SINTA terindeks Sinta-3 menggunakan Turnitin: similarity awal 28% yang sebagian besar berasal dari ulasan literatur yang teksnya mirip. Editor meminta parafrase dan penambahan sitasi primer → similarity turun menjadi 12% → lanjut peer review.
- Penulis B submit ke jurnal Scopus Q2 yang menggunakan iThenticate: similarity awal 18% tapi mengandung dua paragraf yang identik dengan artikel lain tanpa sitasi → editor menolak dengan catatan pelanggaran etika. Penulis harus menyusun surat penjelasan dan revisi substansial sebelum dapat submit ulang.
Checklist Pre-Submission: Kurangi Risiko Similarity
Gunakan checklist ini sebelum mengirim naskah ke jurnal SINTA atau Scopus:
- Jalankan pemeriksaan similarity (Turnitin atau iThenticate) sebagai pre-submission review.
- Periksa dan perbaiki semua kutipan langsung; gunakan tanda kutip dan sumber yang tepat.
- Parafrase ulang bagian literatur yang terlalu mirip sumber lain; hindari copy-paste otomatis dari literatur review.
- Pastikan sitasi primer mengacu pada sumber asli, bukan sekadar review sekunder.
- Gunakan referensi manajer (mis. Mendeley) untuk konsistensi gaya sitasi.
- Mintalah pre-submission review dari rekan sejawat atau layanan profesional (proofreading & paraphrasing academic) untuk meminimalkan similarity dan meningkatkan kualitas bahasa.
Peran Mahri Publisher dalam Mengurangi Risiko
Sebagai partner publikasi, Mahri Publisher menyediakan layanan yang relevan untuk membantu penulis menghadapi tantangan plagiarism check, khususnya untuk target jurnal SINTA atau Scopus. Layanan yang relevan antara lain:
- Proofreading & Paraphrasing Academic (menurunkan similarity sambil mempertahankan makna ilmiah).
- Pre-submission review dan pendampingan submit jurnal untuk menavigasi kebijakan editorial.
- Paket publikasi yang mencakup cek plagiarisme Turnitin sebagai bagian dari proses pra-publikasi; lihat layanan kami di Publikasi Jurnal Mahri Publisher.
Jika ingin memulai proses, Anda bisa mengisi formulir order di Form Order Mahri Publisher untuk konsultasi awal.
Praktik Baik dan Saran Spesifik untuk Penulis
Berikut sejumlah praktik baik yang disarankan berdasarkan pedoman etika internasional seperti COPE (Committee on Publication Ethics) dan pengalaman editorial 2024–2026:
- Dokumentasikan sumber data dan peroleh izin bila perlu (khususnya untuk dataset yang dipublikasikan ulang).
- Hindari self-plagiarism: bila memanfaatkan bagian dari tulisan sebelumnya, jelaskan hubungan dan kutip karya sendiri yang relevan.
- Gunakan preprint dan repository (misalnya yang terindeks di GARUDA) dengan catatan bahwa beberapa jurnal memerlakukan preprint berbeda—selalu periksa kebijakan jurnal sebelum submit.
- Terus perbarui daftar pustaka: beberapa kasus similarity berasal dari mengutip sumber sekunder tanpa merujuk ke sumber primer.
FAQ Singkat
Apakah Scopus melakukan plagiarism check sendiri?
Tidak. Scopus adalah database indeksasi; plagiarism check dilakukan oleh jurnal penerbit sebelum atau selama proses editorial—banyak jurnal Scopus memakai iThenticate sebagai alat standar.
Apakah SINTA memiliki standar plagiarism check terpusat?
SINTA sebagai sistem indeks nasional (dikelola oleh Kemdiktisaintek sejak 2026) menyediakan indikator dan peringkat jurnal, namun mekanisme plagiarism check dioperasikan oleh penerbit masing-masing jurnal. Oleh karena itu praktiknya heterogen antar jurnal SINTA.
Referensi dan Sumber Otentik
- SINTA — informasi kebijakan dan indeks (Kemdiktisaintek, 2026).
- GARUDA — repositori nasional Indonesia: https://garuda.kemdikbud.go.id
- Google Scholar — alat pencarian literatur: https://scholar.google.com
- Turnitin & iThenticate — platform similarity check: https://www.turnitin.com, https://www.ithenticate.com
- Committee on Publication Ethics (COPE): https://publicationethics.org
- DOAJ & Scopus — sumber validasi jurnal internasional: https://doaj.org, https://www.scopus.com
Kesimpulan dan Rekomendasi Praktis
Membandingkan Proses Plagiarism Check di Jurnal Sinta dan Scopus menunjukkan bahwa perbedaan utama terletak pada kebijakan editorial, alat yang digunakan, dan ambang batas yang diberlakukan. Jurnal terindeks Scopus cenderung menerapkan pemeriksaan lebih ketat (sering melalui iThenticate) sedangkan jurnal SINTA memiliki praktik yang lebih beragam bergantung penerbit. Kunci sukses adalah mempersiapkan naskah dengan baik: lakukan pre-submission review, gunakan referensi primer, parafrase dengan benar, dan dokumentasikan setiap sumber.
Butuh percepatan publikasi atau ingin konsultasi strategi submit yang tepat berdasarkan target jurnal (SINTA atau Scopus)? Konsultasi gratis tim Mahri Publisher siap membantu Anda menyusun pre-submission review, proofreading, dan pendampingan submit. Kunjungi halaman layanan publikasi kami di https://mahripublisher.com/publikasi/ atau mulai proses dengan mengisi Form Order.
Referensi terbaru dan pedoman editorial harus selalu dicek secara berkala (update 2024–2026), karena kebijakan alat dan indeks publikasi dapat berubah seiring perkembangan teknologi dan regulasi.






![[FAQ] Berapa Kredit Publikasi di Jurnal Scopus untuk BKD?](https://mahripublisher.com/wp-content/uploads/2023/01/featured-image-5.png)




















