Pembukaan
Kesalahan Memahami “Research Gap” yang Sebenarnya sering menjadi akar penolakan manuskrip oleh reviewer dan editor. Bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa pascasarjana, miskonsepsi ini menyebabkan topik kurang tajam, kontribusi tidak jelas, dan revisi berulang.
Mengapa “research gap” penting dan sering disalahpahami
Research gap adalah celah pengetahuan yang valid—bukan sekadar “belum banyak studi”—yang menjelaskan mengapa studi baru diperlukan. Salah memahami research gap membuat naskah kehilangan nilai orisinalitas dan relevansi teoretis maupun praktis. Di ranah publikasi, pernyataan gap yang lemah sering berujung pada komentar reviewer seperti “kontribusi tidak jelas” atau “literatur yang direview belum komprehensif”.
Kesalahan Memahami “Research Gap” yang Sebenarnya: 7 Kesalahan Umum
1. Menganggap research gap = topik yang belum pernah diteliti
Penyebab umum: peneliti menyamakan “kurangnya studi” dengan gap substansial. Padahal, novelty sejati adalah kontribusi yang memperluas teori atau praktik.
- Contoh: Menyatakan “belum ada penelitian tentang X di kota Y” tanpa menunjukkan apakah hasilnya akan mengubah pemahaman teoretis atau kebijakan.
- Solusi: Jelaskan implikasi teoretis/praktis jika gap diisi; tunjukkan bagaimana hasil bisa menantang atau memperluas literatur.
- Manfaat: Reviewer lebih mudah melihat nilai tambah dan relevansi studi.
2. Menyatakan gap hanya berupa “kurangnya studi” tanpa detail kontribusi
Penyebab umum: ringkasan literatur superfisial yang tidak memetakan kontradiksi teoritis, keterbatasan metode, atau konteks yang belum dijelajahi.
- Solusi praktis: Gunakan matriks literatur (tema, teori, metode, hasil) untuk menandai celah. Formatkan gap menjadi pernyataan tunggal yang terkait tujuan penelitian.
- Contoh perbaikan: dari “sedikit studi pada Z” menjadi “kekosongan mengenai mekanisme mediasi antara A dan B dalam populasi Z—sehingga belum jelas apakah teori T berlaku.”
3. Mengabaikan kualitas evidensi—terlalu mengandalkan studi lokal atau non-peer-reviewed
Penyebab umum: rujukan terbatas pada sumber berbahasa lokal atau laporan tidak terindeks sehingga kesimpulan tentang gap tidak kuat.
- Solusi: Cross-check dengan basis data besar (Google Scholar, SINTA, GARUDA) dan jurnal bereputasi untuk memastikan gap benar-benar belum terjawab. Lihat juga nomor ISSN untuk konfirmasi jurnal tempat rujukan dipublikasikan (ISSN Portal).
- Manfaat: Pernyataan gap menjadi lebih kredibel di mata reviewer internasional dan editor.
4. Menyatakan gap metodologis tanpa pembenaran
Penyebab umum: klaim bahwa “metode sebelumnya salah” tanpa analisis kenapa dan bagaimana metode baru memperbaiki atau melengkapi temuan.
- Contoh: Jika Anda mengusulkan desain kuantitatif padahal literatur dominan kualitatif, jelaskan bagaimana pendekatan kuantitatif menyediakan bukti kausal atau generalisasi yang belum tersedia.
- Solusi: Jelaskan keterbatasan metode sebelumnya secara spesifik (mis. ukuran sampel, jenis sampling, variabel pengendali) dan tunjukkan bagaimana rancangan Anda mengatasi itu.
5. Menyamaratakan novelty dengan terminologi berlebihan (overclaiming)
Penyebab umum: penulis menggunakan istilah seperti “pertama kali di dunia” tanpa verifikasi. Ini cepat ditolak oleh reviewer yang ahli.
- Solusi: Gunakan klaim yang terukur—mis. “Kontribusi memperluas teori T pada konteks Z” atau “menyediakan bukti empiris untuk hipotesis yang kontroversial”. Hindari frasa absolut.
- Manfaat: Mengurangi resistensi reviewer; meningkatkan trustworthiness manuskrip.
6. Tidak mengaitkan gap dengan kontribusi teori/praktis yang jelas
Penyebab umum: pernyataan gap berhenti pada identifikasi tanpa menyatakan implikasi untuk teori, kebijakan, atau praktik.
- Solusi: Tuliskan dua hingga tiga poin kontribusi yang jelas—mis. kontribusi teoretis, kontribusi metodologis, kontribusi praktis (kebijakan atau manajerial).
- Contoh: Studi Anjar Priyono (2017) tentang trust dan risk pada adopsi Go-Pay tidak hanya menguji variabel tetapi menyarankan pengembangan Technology Acceptance Model yang lebih komprehensif—ini model kontribusi yang jelas (https://doi.org/10.20885/jsb.vol21.iss1.art6).
7. Mengabaikan literatur terkait kesalahan konseptual & prosedural
Penyebab umum: tidak meninjau studi tentang kesalahan dalam domain yang relevan sehingga pernyataan gap tidak lengkap.
- Contoh: Penelitian pendidikan matematika (Saparwadi, 2022; Husnul Khatimah & Orin Asdarina, 2020) menunjukkan jenis-jenis kesalahan yang berulang (konseptual, prosedural, operasional). Jika topik Anda terkait pedagogi, Anda perlu mengaitkan gap dengan temuan semacam ini (https://doi.org/10.33365/jm.v4i1.1499, https://doi.org/10.33365/jm.v2i1.464).
- Solusi: Integrasikan kajian tentang “kesalahan” atau keterbatasan instrumen dalam diskusi gap Anda agar lebih kontekstual dan actionable.
Contoh konkret: Dari klaim lemah ke pernyataan gap yang kuat
Contoh buruk: “Belum ada penelitian tentang perilaku investasi emas di wilayah X.”
Perbaikan menjadi gap kuat: “Belum ada studi yang menguji peran overconfidence sebagai mediator antara herding dan keputusan investasi emas pada nasabah Pegadaian di wilayah X menggunakan analisis regresi multivariat; padahal studi sebelumnya hanya menguji hubungan langsung tanpa mempertimbangkan mediasi psikologis (lihat Aristiwati & Hidayatullah, 2021).” Dengan format ini, Anda menjelaskan konteks, metode yang belum dipakai, dan kontribusi yang diharapkan (https://doi.org/10.52353/ama.v14i1.202).
Langkah Praktis Menemukan dan Menyusun Research Gap (Checklist Step-by-Step)
- Lakukan search sistematis: gunakan kombinasi kata kunci di Google Scholar, SINTA, dan Garuda (Google Scholar, SINTA, GARUDA).
- Gunakan reference manager (Mendeley) untuk memetakan literatur dan menandai gap.
- Buat matriks literatur: kolom untuk konteks, teori, metode, sampel, hasil, keterbatasan.
- Identifikasi tiga tipe gap potensial: teoritis, empiris, metodologis.
- Tulis pernyataan gap singkat (1–2 kalimat) lalu kembangkan menjadi paragraf dalam pendahuluan yang langsung mengarah ke tujuan penelitian.
- Lakukan pre-submission review—cek konsistensi tujuan, gap, dan kontribusi.
- Jalankan cek plagiarisme (mis. Turnitin) dan proofreading (Grammarly atau layanan profesional) sebelum submit.
Checklist Pre-Submission (Praktis)
- Apakah pernyataan research gap spesifik dan terukur?
- Apakah gap didukung oleh tinjauan literatur yang relevan dan terbaru (2024–2026)?
- Apakah kontribusi penelitian dinyatakan jelas (teori/empiris/praktis)?
- Apakah metode dirancang untuk menjawab gap tersebut secara valid dan reliabel?
- Apakah jurnal yang dituju sesuai scope dan jurnal terindeks SINTA/Scopus? (Pertimbangkan ranking SINTA dan impact factor quartile.)
- Sudahkah pre-submission review atau konsultasi dilakukan untuk validasi pernyataan gap?
Dampak Jika Salah Memahami Research Gap
Kesalahan dalam memahami research gap berdampak langsung pada peluang diterima: reviewer menganggap kontribusi lemah, editor menolak tanpa review, atau naskah butuh revisi mayor berkepanjangan. Selain itu, sumber daya penelitian (waktu, biaya publikasi jurnal, tenaga penelitian) terbuang. Dalam konteks akademik, hal ini juga berpotensi menunda kelulusan studi lanjut atau kenaikan jabatan bagi dosen karena publikasi tidak memenuhi kriteria kualitas yang diharapkan.
Praktik Baik: Belajar dari Studi Empiris
Beberapa studi menunjukkan bagaimana peneliti yang secara eksplisit memetakan gap dan membangun desain yang tepat mendapatkan kontribusi yang lebih jelas. Misalnya, Aristiwati & Hidayatullah (2021) memisahkan efek overconfidence dan herding pada keputusan investasi, sehingga gap yang dituju berkaitan pada mekanisme psikologis yang belum teruji secara empiris (https://doi.org/10.52353/ama.v14i1.202).
Studi lain menyarankan variabel moderasi atau mekanisme baru sebagai arahan penelitian lanjutan—Uke Prajogo & Rusno (2022) misalnya merekomendasikan eksplorasi peran kualitas informasi sebagai moderator dalam studi perilaku pinjaman online (https://doi.org/10.21067/mbr.v6i1.6680).
Bagaimana Mahri Publisher Dapat Membantu
Sebagai partner publikasi, Mahri Publisher membantu memvalidasi pernyataan research gap Anda melalui pre-submission review, proofreading akademik, dan pendampingan submit jurnal. Kami mendukung penulis dalam menyelaraskan gap—tujuan—metode sehingga naskah lebih siap menghadapi proses review. Layanan kami mencakup cek plagiarisme Turnitin, penyesuaian template jurnal, dan strategi pemilihan jurnal (SINTA 1–6, termasuk opsi internasional). Untuk informasi layanan publikasi, kunjungi halaman publikasi kami: https://mahripublisher.com/publikasi/. Jika Anda siap mempercepat proses submit, gunakan formulir pemesanan: https://mahripublisher.com/order.
Kami tidak mengklaim “garansi 100% lolos”, namun berdasarkan data internal menunjukkan tingkat keberhasilan tinggi berdasar data pengalaman pendampingan kami dan review berkualitas.
Kesimpulan
Kesalahan Memahami “Research Gap” yang Sebenarnya sering bukan karena kekurangan ide, melainkan cara merumuskan dan memosisikannya. Peneliti harus mampu membedakan antara “belum banyak penelitian” dan gap yang menawarkan kontribusi teoretis atau praktis nyata. Langkah sistematis—pemetaan literatur, identifikasi gap tipikal (teoritis, empiris, metodologis), dan penyusunan pernyataan gap yang tajam—adalah kunci agar naskah bertahan dari pemeriksaan reviewer.
Butuh percepatan publikasi atau konsultasi tentang bagaimana merumuskan research gap yang kuat? Dapatkan konsultasi gratis dari tim Mahri Publisher untuk pre-submission review dan strategi publikasi yang terarah.
Referensi
- Istiqomah Nur Aristiwati & Suryakusuma Kholid Hidayatullah (2021). Pengaruh Herding dan Overconfidence terhadap Keputusan Investasi. https://doi.org/10.52353/ama.v14i1.202
- Uke Prajogo & Rusno Rusno (2022). Persepsi Risiko terhadap Minat Melakukan Pinjaman Online dengan Kemudahan Penggunaan sebagai Variabel Moderasi. https://doi.org/10.21067/mbr.v6i1.6680
- Anjar Priyono (2017). Analisis Pengaruh Trust dan Risk dalam Penerimaan Teknologi Dompet Elektronik Go-Pay. https://doi.org/10.20885/jsb.vol21.iss1.art6
- Lalu Saparwadi (2022). Kesalahan Siswa SMP dalam Memahami Masalah Matematika Bentuk Soal Cerita. https://doi.org/10.33365/jm.v4i1.1499
- Husnul Khatimah & Orin Asdarina (2020). Diagnosis Kesalahan Siswa dalam Memahami Materi Faktorisasi Bentuk Aljabar. https://doi.org/10.33365/jm.v2i1.464
- Portal SINTA (2026 update): https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/
- GARUDA (Kemdiktisaintek): https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/
- Google Scholar: https://scholar.google.com/
- ISSN Portal: https://portal.issn.org/






![[FAQ] Berapa Kredit Publikasi di Jurnal Scopus untuk BKD?](https://mahripublisher.com/wp-content/uploads/2023/01/featured-image-5.png)




















