Pengenalan Singkat
[FAQ] Apa Perbedaan antara Scopus Terindeks dan Scopus Terakreditasi? — pertanyaan ini sering muncul di kalangan dosen, peneliti, dan mahasiswa pascasarjana yang mengejar publikasi bereputasi. Ketidakpastian istilah dapat memicu kebingungan saat memilih jurnal, merencanakan BKD, atau mengajukan pengajuan beasiswa dan hibah.
Ringkasan Inti: Problem → Solusi → Benefit
Problem: Banyak akademisi menganggap “Scopus terakreditasi” sebagai status resmi terpisah dari “Scopus terindeks”. Padahal definisi dan implikasinya berbeda.
Solusi: Pelajari perbedaan konseptual dan teknis, verifikasi di sumber resmi (Scopus, SINTA, ISSN), dan gunakan checklist untuk memilih jurnal yang tepat untuk tujuan akademik Anda.
Benefit: Setelah memahami perbedaan ini, Anda bisa merencanakan publikasi yang sesuai dengan kebutuhan kepangkatan, lulus studi, atau visibilitas internasional.
Bagian 1 — Definisi dan Konsep Dasar
Apa arti “Scopus Terindeks”?
“Scopus terindeks” berarti sebuah jurnal dimasukkan ke dalam database Scopus oleh Elsevier setelah melalui proses evaluasi kualitas. Jurnal yang terdaftar memiliki metadata, artikel, dan sitasi yang ter-crawl di Scopus, yang memungkinkan penggunaan metrik seperti SJR (SCImago Journal Rank), h-index, dan pengelompokan kuartil (Q1–Q4).
Apa arti “Scopus Terakreditasi”?
Imajinasi umum sering menyimpang: Scopus sendiri tidak memberikan “akreditasi” dalam arti sertifikat nasional. Istilah “terakreditasi” lebih relevan pada konteks akreditasi nasional (mis. SINTA di Indonesia) atau pengakuan institusional lain. Sehingga, ketika seseorang mengatakan “Scopus terakreditasi”, kemungkinan besar mereka merujuk pada salah satu dari dua kondisi:
- Jurnal yang terindeks oleh Scopus sekaligus mendapat pengakuan/akreditasi nasional (mis. SINTA 1 atau peringkat tertentu).
- Kesalahan terminologi di mana “terakreditasi” digunakan untuk menggambarkan reputasi atau validitas jurnal yang diindeks Scopus.
Bagian 2 — Mengapa Perbedaan Ini Penting?
Impak praktis pada karir akademik dan administratif:
- Pengajuan KP, tesis, disertasi atau persyaratan kelulusan sering mensyaratkan jurnal dengan akreditasi nasional tertentu (contoh: SINTA 2–4 untuk beberapa program). SINTA kini dikelola oleh Kemdiktisaintek (update 2026) — verifikasi di SINTA.
- Untuk pengakuan internasional, jurnal terindeks Scopus memberi benefit visibilitas global, sitasi lebih terukur, dan metrik SJR yang diakui lembaga internasional.
- Skema pendanaan atau promosi jabatan fungsional (Jabatan Fungsional Dosen) mungkin mensyaratkan jurnal terindeks Scopus atau SINTA tertentu; selalu cek pedoman institusi Anda.
Bagian 3 — Cara Verifikasi Status Jurnal
Langkah praktis untuk memastikan klaim jurnal:
- Periksa daftar resmi Scopus Source List di situs Elsevier (bisa dicari melalui portal Scopus atau database Scopus). Jika jurnal ada di sana, itu berarti “terindeks.”
- Cek SINTA untuk status akreditasi nasional: SINTA. Perhatikan tanggal update—SINTA dikelola oleh Kemdiktisaintek per 2026.
- Verifikasi ISSN melalui portal ISSN untuk memastikan identitas jurnal: ISSN Portal.
- Cek Garuda (repositori nasional) untuk metadata dan bukti akreditasi: Garuda.
- Gunakan Google Scholar untuk memetakan visibilitas artikel, tapi jangan gunakan GS sebagai bukti akreditasi resmi: Google Scholar.
Bagian 4 — Perbandingan Langsung: Scopus Terindeks vs Scopus Terakreditasi
| Aspek | Scopus Terindeks | “Scopus Terakreditasi” (konsep umum) |
|---|---|---|
| Pengeluar | Elsevier / Scopus | Biasanya akreditasi nasional (SINTA) atau pengakuan institusional |
| Arti resmi | Jurnal secara teknis terdaftar dan artikel terindeks | Bukan terminologi resmi Scopus — kombinasi status/akreditasi ganda |
| Manfaat utama | Visibilitas internasional, metrik SJR, Q1–Q4 | Memenuhi persyaratan administratif nasional (mis. BKD, Serdos) |
| Verifikasi | Scopus Source List | SINTA / lembaga akreditasi nasional |
Bagian 5 — Contoh Kasus dan Data Pendukung
Studi bibliometrik menunjukkan nilai tambah publikasi yang terindeks Scopus. Sebagai contoh, analisis bibliometrik atas artikel terindeks Scopus pada topik nanotechnology dan nano fertilizer (2005–2023) memetakan pertumbuhan topik dan negara pengontribusi utama (Rismayanti et al., 2023), yang menggambarkan bahwa publikasi terindeks Scopus cenderung memiliki jangkauan internasional lebih luas. Sementara itu, bibliometrik publikasi Indonesia bidang pertanian dan biologi terindeks Scopus (Winarko, 2020) menunjukkan jurnal-jurnal tertentu yang berkontribusi besar terhadap sitasi dan indeksasi nasional.
Referensi semacam ini bisa memberi dasar argumentasi saat Anda harus memilih antara target jurnal bereputasi internasional (Scopus) atau jurnal yang memenuhi kebutuhan administratif nasional (SINTA).
Bagian 6 — Checklist Praktis untuk Peneliti
Gunakan checklist ini sebelum submit:
- Tujuan publikasi: apakah untuk promosi/jabatan (butuh SINTA tertentu) atau untuk visibilitas internasional?
- Verifikasi Scopus Source List — pastikan jurnal benar-benar “terindeks”.
- Cek apakah jurnal juga memiliki peringkat SINTA yang relevan jika diperlukan administratif.
- Periksa SJR, h-index, kuartil (impact factor quartile) untuk menilai kualitas jurnal.
- Lakukan pre-submission review internal: cek metodologi, checklist etika (COPE), dan cek plagiarisme menggunakan Turnitin.
- Siapkan bibliografi dengan manajer referensi (Mendeley/EndNote) dan gunakan proofreading (Grammarly atau layanan profesional) untuk meningkatkan kualitas bahasa akademik.
Bagian 7 — Strategi Pilih Jurnal Berdasar Tujuan
Jika Tujuan: Kenaikan Pangkat / BKD / Serdos
Prioritaskan jurnal yang memiliki akreditasi nasional sesuai persyaratan institusi Anda (cek SINTA). Jika jurnal terindeks Scopus sekaligus memiliki peringkat SINTA tinggi, itu merupakan kombinasi ideal.
Jika Tujuan: Visibilitas Internasional dan Sitasi
Fokus pada jurnal terindeks Scopus, perhatikan SJR, kuartil, dan kebijakan open access. Jurnal Scopus Q1–Q2 cenderung memberikan exposure lebih tinggi.
Jika Tujuan: Graduate Requirements (S1/S2/S3)
Cek pedoman program studi Anda; beberapa program menerima jurnal SINTA 2–4 untuk tugas akhir atau tesis. Pastikan jurnal memenuhi syarat administrasi.
Bagian 8 — Kesalahan Umum dan Cara Menghindarinya
- Menganggap semua jurnal yang mengklaim “Scopus” valid — selalu cek di SINTA dan daftar resmi Scopus.
- Mencampuradukkan istilah “terindeks” dan “terakreditasi” saat menyusun dokumen administrasi — gunakan istilah yang tepat sesuai konteks.
- Memilih jurnal hanya karena terindeks tanpa melihat kualitas editorial (peer-review, reviewer board, etika) — lakukan pre-submission review.
Bagian 9 — Peran Mahri Publisher
Mahri Publisher adalah partner publikasi yang memahami nuansa perbedaan ini dan membantu peneliti memilih target jurnal berdasarkan tujuan akademik. Layanan kami mencakup publikasi jurnal nasional (Sinta 2–6), proof-reading, pendampingan submit jurnal, dan konsultasi strategi publikasi ilmiah sesuai standar (pre-submission review, penyesuaian template, cek plagiarisme menggunakan Turnitin, serta penggunaan manajer referensi seperti Mendeley).
Jika Anda ingin mendiskusikan strategi publikasi (apakah sebaiknya mengejar jurnal terindeks Scopus atau jurnal yang memenuhi syarat SINTA untuk administrasi), tim kami siap membantu dengan data dan pengalaman. Lihat layanan kami di Mahri Publisher – Layanan Publikasi atau ajukan pesanan/permintaan bimbingan melalui Form Order.
Langkah-langkah Praktis: Roadmap 6 Minggu untuk Target Jurnal Scopus/SINTA
- Minggu 1: Tentukan tujuan publikas—promotion vs visibilitas; lakukan literature mapping via Google Scholar dan Scopus.
- Minggu 2: Shortlist 3–5 jurnal; verifikasi status di Scopus Source List dan SINTA.
- Minggu 3: Lakukan pre-submission review (struktur, metodologi, etika); gunakan Turnitin untuk cek originalitas.
- Minggu 4: Revisi naskah sesuai template jurnal; minta proofreading dan referensi format menggunakan Mendeley.
- Minggu 5: Submit; monitoring proses review; siapkan respons untuk reviewer (revisi minor/major).
- Minggu 6: Finalisasi revisi; persiapkan metadata, cover letter, dan bukti akreditasi jika diminta.
Kesimpulan
Secara ringkas: “Scopus terindeks” adalah istilah resmi yang berarti jurnal masuk ke database Scopus; sementara “Scopus terakreditasi” bukan istilah resmi Scopus dan biasanya merujuk pada jurnal yang memiliki pengakuan/akreditasi nasional tambahan (mis. SINTA). Memahami perbedaan ini penting untuk memilih target publikasi yang tepat sesuai tujuan akademik dan administratif Anda.
Butuh percepatan publikasi atau pemilihan target jurnal yang tepat? Konsultasi gratis tim Mahri Publisher tersedia untuk membantu strategi publikasi Anda. Kunjungi halaman layanan kami di https://mahripublisher.com/publikasi/ atau ajukan permintaan pendampingan melalui https://mahripublisher.com/order. Tingkat keberhasilan tinggi berdasar data pengalaman pendampingan kami.
References
- Rismayanti, F., et al. (2023). Bibliometric Analysis Atas Artikel Terindeks Scopus Terkait Penggunaan Nanotechnology dan Nano Fertilizer. Journal of Research and Technology. DOI: https://doi.org/10.55732/jrt.v9i2.1033.
- Winarko, B. (2020). Bibliometrik Publikasi Indonesia Bidang Pertanian dan Biologi yang Terindeks Scopus. Jurnal Perpustakaan Pertanian. DOI: https://doi.org/10.21082/jpp.v29n2.2020.p43-50.
- Maharani, S., et al. (2025). Transformasi Seleksi Peserta Didik dari PPDB ke SPMB Tahun 2025. Jurnal Basicedu. DOI: https://doi.org/10.31004/basicedu.v9i4.10133.
- SINTA (Kemdiktisaintek). https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/.
- Garuda (Kemdiktisaintek). https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/.
- ISSN Portal. https://portal.issn.org/.
- Google Scholar. https://scholar.google.com/.





![[FAQ] Berapa Kredit Publikasi di Jurnal Scopus untuk BKD?](https://mahripublisher.com/wp-content/uploads/2023/01/featured-image-5.png)




















