Pendahuluan
Kesalahan dalam Merumuskan Masalah Penelitian dan Cara Memperbaikinya sering menjadi sumber utama penolakan naskah oleh reviewer dan panitia jurnal. Bagi dosen, mahasiswa pascasarjana, atau peneliti, perumusan masalah yang lemah menyebabkan tujuan tidak jelas, metodologi tidak replikabel, dan kontribusi ilmiah menjadi samar. Artikel ini membahas kesalahan yang paling sering terjadi, penyebabnya, serta strategi praktis untuk memperbaiki dan mencegahnya—dengan contoh, checklist, dan rujukan ke praktik terbaik akademik.
Mengapa Perumusan Masalah Itu Penting?
Perumusan masalah adalah fondasi penelitian: ia menentukan desain metodologi, pengumpulan data, analisis, serta interpretasi temuan. Jika masalah tidak terdefinisi dengan baik, seluruh penelitian bisa kehilangan arah. Penelitian pendidikan menunjukkan bahwa kemampuan merumuskan dan menafsirkan masalah berkorelasi dengan kualitas output akademik—contohnya, studi literasi matematis model PISA menemukan hambatan signifikan pada keterampilan merumuskan masalah (De Fermat, 2025).
Kesalahan Umum Saat Merumuskan Masalah Penelitian
1. Masalah Terlalu Umum atau Ambigu
Deskripsi masalah yang kabur (misalnya “kurangnya kualitas pendidikan”) tidak memandu pemilihan variabel atau metode. Akibatnya, tujuan menjadi terlalu luas dan sulit diukur.
- Penyebab: Kurangnya telaah pustaka atau fokus pada isu populer tanpa mengidentifikasi gap penelitian.
- Contoh: “Tingkat kepuasan mahasiswa belum maksimal” — apa yang dimaksud dengan “belum maksimal” dan terhadap indikator apa?
- Solusi: Spesifikkan populasi, konteks, variabel, dan aspek yang ingin diukur (mis. “tingkat kepuasan mahasiswa S2 program X di universitas Y terhadap fasilitas perpustakaan digital pada 2025”).
2. Tidak Ada Justifikasi Berdasarkan Literatur
Masalah yang muncul tanpa dukungan literatur atau identifikasi gap akan sulit dibenarkan secara ilmiah. Reviewer sering menolak naskah karena perumusan masalah tampak replikasi tanpa kontribusi.
- Penyebab: Minimalnya kajian literatur sistematis atau penggunaan sumber tidak mutakhir.
- Solusi: Tunjukkan gap eksplisit dalam literatur, gunakan meta-analisis atau ringkasan studi relevan, dan kaitkan temuan pendahuluan dengan teori atau model yang relevan.
- Tip praktis: Gunakan database seperti Google Scholar dan Garuda untuk memetakan gap penelitian. (Lihat: Garuda dan Google Scholar).
3. Pertanyaan Penelitian Tidak Terukur atau Tidak Replikabel
Pertanyaan penelitian yang tidak operasional menyebabkan metode menjadi subjektif. Studi tentang kesalahan prosedural dan konseptual (Baharuddin & Jumarniati, 2021) menekankan pentingnya kejelasan operasional agar hasil dapat diulang.
- Penyebab: Kurang definisi operasional pada variabel utama.
- Solusi: Tetapkan indikator, alat ukur, dan prosedur sampling secara eksplisit. Sertakan contoh instrumen jika perlu.
4. Scope Tidak Realistis atau Tidak Feasible
Mengambil scope terlalu luas (mis. nasional, lintas-sektor, multi-metode eksperimental) tanpa sumber daya memadai mengakibatkan studi terhenti.
- Penyebab: Ambisi akademik tanpa perencanaan sumber daya.
- Solusi: Lakukan analisis kelayakan (time-budget, akses data, etika), batasi sampel atau periode, dan rencanakan strategi peningkatan skala (pilot → studi penuh).
5. Pelanggaran Etika dan Duplikasi (Redundansi)
Duplikasi data, plagiasi, atau pengabaian hak subjek menyebabkan penolakan editorial. Pemeriksaan plagiarisme (Turnitin) dan patuh pada pedoman COPE wajib dilakukan.
- Penyebab: Tekanan publikasi, kurangnya pemahaman etika, atau reuse data tanpa izin/atribusi.
- Solusi: Jalankan pemeriksaan awal memakai Turnitin, dokumentasikan izin akses data, dan jelaskan novelty kontribusi penelitian.
Langkah Sistematis Memperbaiki Perumusan Masalah
Berikut alur yang dapat diikuti untuk memperbaiki perumusan masalah sehingga lebih tajam, valid, dan layak publikasi:
- 1) Pre-submission review: Lakukan review internal atau peer review kecil sebelum menulis naskah penuh.
- 2) Gap mapping: Ringkas 8–12 studi terpilih (literature mapping) untuk menegaskan gap penelitian.
- 3) Spesifikasi variabel: Buat tabel operasional definisi variabel, indikator, dan alat ukur.
- 4) Formulasi pertanyaan: Gunakan format PICO/PECO atau pertanyaan SMART (Spesifik, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound).
- 5) Validasi feasibility: Susun timeline, anggaran, izin etika, dan akses data.
- 6) Pre-test instrumen: Lakukan pilot untuk memastikan replikasi dan reliabilitas.
- 7) Dokumentasikan novelty: Tulis paragraf kontribusi penelitian (theoretical & practical impact), termasuk implikasi kebijakan apabila relevan.
Contoh Perbaikan: Dari Pesawat Fragmented ke Terukur
Contoh awal (buruk): “Penurunan prestasi akademik di universitas X.” → sangat umum.
Perbaikan (baik): “Bagaimana pengaruh beban kerja dosen pembimbing terhadap waktu penyelesaian tesis mahasiswa S3 program studi A di Universitas X pada periode 2023–2025?”
- Spesifik populasi: mahasiswa S3 program A
- Variabel jelas: beban kerja dosen pembimbing (jumlah mahasiswa per dosen) dan waktu penyelesaian tesis (bulan)
- Rentang waktu: 2023–2025
- Metode: mixed-methods—analisis survival untuk waktu penyelesaian + wawancara mendalam
Checklist Praktis: Validasi Perumusan Masalah
- [ ] Apakah masalah ditulis dalam satu kalimat fokus?
- [ ] Apakah ada referensi yang menunjukkan gap penelitian?
- [ ] Apakah variabel/indikator didefinisikan secara operasional?
- [ ] Apakah scope dan sumber daya realistis?
- [ ] Sudahkah risiko etika dan izin dipertimbangkan?
- [ ] Sudahkah Anda melakukan pre-submission review (internal peer review)?
- [ ] Apakah kontribusi ilmiah (novelty) dijelaskan?
Tools & Praktik yang Membantu
- Turnitin — untuk pengecekan plagiarisme dan overlap literatur.
- Mendeley / Zotero — manajemen referensi untuk membangun gap map yang terstruktur.
- Grammarly — proofreading bahasa Inggris (untuk jurnal internasional), namun tetap lakukan proofreading akademis manual.
- Template diagram alur dan tabel operasional variabel — membuat metodologi lebih replikabel.
Peran Pelatihan dan Pembimbingan
Pelatihan penelitian seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menunjukkan pentingnya siklus identifikasi masalah → perencanaan → tindakan → observasi → refleksi (Happy Fitria et al., 2019). Prinsip siklus ini relevan untuk semua disiplin: merumuskan masalah adalah tahap identifikasi yang harus diulang dengan refleksi dan validasi.
Etika, NovoLity, dan Relevansi Kebijakan
Merumuskan masalah juga harus memuat aspek etika (izin subjek, anonymization), novelty (kontribusi teoretis & praktis), dan relevansi kebijakan bila berlaku. Contoh: studi yang mengukur efek intervensi edukasi harus menyatakan manfaat praktis bagi pembuat kebijakan pendidikan dan rujukan pada standar nasional atau internasional (mis. pedoman PISA).
Bagaimana Mahri Publisher Dapat Membantu
Mahri Publisher memahami tantangan perumusan masalah dan publikasi akademik. Sebagai partner bagi dosen, peneliti, dan akademisi, layanan kami mencakup proofreading akademik, pre-submission review, pengaturan sitasi internasional, dan pendampingan submit jurnal (nasional & internasional). Untuk informasi layanan dan paket publikasi, kunjungi halaman kami di Publikasi Mahri Publisher. Jika Anda siap mempercepat proses submit, gunakan form order kami: Form Order Mahri Publisher.
Studi Kasus Singkat: Kesalahan Perumusan dan Perbaikannya
Kasus: Seorang peneliti melaporkan “rendahnya literasi numerik siswa” tanpa membedakan jenis literasi atau konteks. Reviewer meminta klarifikasi pada level indikator dan alat ukur.
Perbaikan: Peneliti mengubah perumusan menjadi “faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan merumuskan masalah matematis siswa kelas VIII di sekolah menengah pertama wilayah X,” mengaitkan dengan indikator PISA dan menggunakan rubrik penilaian terstandar. Hasilnya: reviewer mengapresiasi kejelasan variabel dan metode, sehingga proses review melanjutkan ke tahap substansial.
Kesimpulan
Merumuskan masalah adalah keterampilan inti yang harus dilatih secara sistematis. Kesalahan dalam Merumuskan Masalah Penelitian dan Cara Memperbaikinya meliputi masalah yang terlalu umum, kurangnya justifikasi literatur, pertanyaan tidak terukur, scope tidak feasible, dan pelanggaran etika. Perbaikan dilakukan melalui pre-submission review, gap mapping, definisi operasional, pilot study, dan validasi feasibility. Langkah-langkah praktis dan checklist dalam artikel ini dapat dijadikan panduan langsung saat menyiapkan naskah.
Butuh percepatan publikasi atau konsultasi personal tentang perumusan masalah dan strategi submit (Sinta/Scopus)? Konsultasi gratis tim Mahri Publisher siap membantu proses pre-submission review dan pendampingan publikasi. Kunjungi halaman layanan atau mulai dengan form order.
Referensi
- Anies Fuady (2017), “Berfikir Reflektif dalam Pembelajaran Matematika”, JIPMat. DOI: https://doi.org/10.26877/jipmat.v1i2.1236
- Happy Fitria et al. (2019), “Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru melalui Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas”, ABDIMAS UNWAHAS. DOI: https://doi.org/10.31942/abd.v4i1.2690
- M. R. Baharuddin & Jumarniati (2021), “Investigasi Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Bilangan Cacah”, Proximal. DOI: https://doi.org/10.30605/proximal.v4i1.507
- Putri Inaya Sasha Billa et al. (2025), “Identifikasi Kesalahan Siswa dalam Merumuskan dan Menafsirkan Masalah pada Soal Literasi Matematis Model PISA”, De Fermat. DOI: https://doi.org/10.36277/defermat.v8i2.2404
- Sinta (Kemdiktisaintek) — portal indikator jurnal nasional: https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/
- Garuda — portal publikasi nasional: https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/
- ISSN International Centre — informasi identifikasi seri terbitan: https://portal.issn.org/






![[FAQ] Berapa Kredit Publikasi di Jurnal Scopus untuk BKD?](https://mahripublisher.com/wp-content/uploads/2023/01/featured-image-5.png)




















