Pembukaan
Perbedaan antara Plagiarisme yang Disengaja dan Tidak Disengaja adalah topik krusial bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa yang menargetkan publikasi di jurnal nasional maupun internasional. Banyak kegagalan submit atau penolakan artikel disebabkan oleh isu etika sitasi dan kemiripan teks. Artikel ini menjelaskan dengan rinci perbedaan, contoh kasus, metode deteksi, konsekuensi akademik, dan langkah praktis pencegahan agar karya Anda memenuhi standar etika publikasi.
Apa itu Plagiarisme? (Definisi Umum)
Plagiarisme secara sederhana adalah penggunaan ide, kata-kata, data, atau karya orang lain tanpa memberikan pengakuan yang layak. Dalam konteks akademik, ini mencakup duplikasi teks, ide tanpa sitasi, serta self-plagiarism (mengulang karya sendiri tanpa deklarasi). Era digital mempercepat akses informasi sehingga literasi media dan literasi digital menjadi penting untuk membedakan konten orisinal dan yang memerlukan atribusi (lihat kajian literasi digital sebagai tantangan baru; Restianty, 2018).
Perbedaan antara Plagiarisme yang Disengaja dan Tidak Disengaja
1. Plagiarisme yang Disengaja
Plagiarisme disengaja terjadi saat penulis sadar menyalin teks, ide, atau data orang lain tanpa sitasi, dengan tujuan memperoleh keuntungan (mis. publikasi, promosi akademik). Ciri khasnya:
- Duplikasi teks yang signifikan dari sumber lain tanpa tanda kutip atau referensi.
- Penggunaan data atau gambar tanpa izin atau atribusi.
- Penyusunan ulang minor (minor editing) dari karya lain untuk mengaburkan jejak asli.
Contoh: Seorang peneliti menyalin bab metode dari artikel lain dan mengganti beberapa frasa sebelum submit ke jurnal. Ini jelas merupakan tindakan disengaja dan berisiko sanksi berat seperti penarikan artikel atau proses etik di institusi.
2. Plagiarisme yang Tidak Disengaja
Plagiarisme tidak disengaja terjadi saat penulis meniru struktur kalimat, frasa, atau ide tanpa sengaja karena kurangnya pengetahuan tentang teknik parafrase dan kaidah sitasi. Faktor yang sering berkontribusi adalah:
- Keterbatasan literasi akademik atau literasi digital (lihat diskusi tentang pendidikan karakter dan tantangan era digital; Triyanto, 2020).
- Kesalahan manajemen referensi, misalnya catatan kutipan tercampur dengan catatan parafrase.
- Terburu-buru menjelang tenggat, membuat catatan sumber tidak lengkap.
Contoh: Mahasiswa memasukkan ringkasan dari beberapa sumber tetapi lupa mencantumkan sitasi pada beberapa paragraf, sehingga perangkat deteksi kemiripan menunjukkan persentase tinggi meskipun niatnya bukan menyalin.
Mengapa Perbedaan Ini Penting untuk Penulis Akademik?
Membedakan antara tindakan disengaja dan tidak disengaja mempengaruhi bagaimana kasus ditangani oleh editor jurnal, institusi, atau komite etik. Plagiarisme disengaja sering berujung pada sanksi lebih berat seperti penarikan artikel, larangan submit sementara, atau tindakan disipliner. Sementara itu, plagiarisme tidak disengaja biasanya dapat diperbaiki melalui revisi, klarifikasi sumber, atau edukasi penulis (mis. pelatihan literasi akademik).
Bagaimana Publisher dan Jurnal Menilai Kasus Plagiarisme?
Proses penilaian biasanya melibatkan beberapa tahap:
- Pre-submission review oleh penulis atau pendamping (rekomendasi: lakukan pre-submission review sebelum submit).
- Scan similarity menggunakan alat seperti Turnitin atau iThenticate untuk mengukur overlap teks.
- Analisis manual oleh editor atau reviewer untuk memeriksa konteks kemiripan (apakah sitasi ada, apakah teks dikutip, domain pengetahuan umum, dsb.).
- Keputusan editorial: reject, revise, atau investigasi etik lebih lanjut.
Banyak jurnal dan institusi menetapkan tingkat kemiripan yang dapat diterima secara tentatif (sering di bawah 15-20%), tetapi angka ini bervariasi antar penerbit dan area studi. Oleh karena itu penting melakukan pre-submission review dan menggunakan layanan cek plagiarisme sebelum submit.
Deteksi dan Alat Pendukung
Alat deteksi isi sangat membantu membedakan antara plagiarisme disengaja dan ketidaksengajaan. Rekomendasi alat dan praktik:
- Turnitin / iThenticate: standar untuk pengecekan similarity di banyak jurnal. Gunakan untuk memeriksa draft akhir.
- Mendeley / Zotero: manajemen referensi untuk mencegah hilangnya sumber saat menulis.
- Grammarly: membantu perbaikan tata bahasa dan kadang membantu parafrase yang lebih baik.
- Proofreading & Paraphrasing Academic: layanan profesional yang mengurangi risiko plagiarisme tidak disengaja (contoh layanan Mahri Publisher untuk proofreading & paraphrasing).
Langkah Praktis Membedakan dan Menangani Kasus
Berikut checklist dan langkah yang dapat diikuti penulis untuk mengidentifikasi apakah sebuah kemiripan bersifat disengaja atau tidak, dan cara menanganinya:
- Checklist pra-submit:
- Jalankan pemeriksaan similarity (Turnitin/iThenticate).
- Pastikan setiap kutipan langsung diberi tanda kutip dan referensi lengkap.
- Periksa setiap parafrase: apakah ide dasar tetap milik penulis lain? Jika ya, beri kredit.
- Atur pustaka menggunakan Mendeley atau Zotero agar referensi tidak tercecer.
- Gunakan proofreading profesional untuk penghalusan bahasa dan parafrase.
- Jika similarity tinggi ditemukan:
- Analisis sumber-sumber utama yang memunculkan kemiripan.
- Jika kemiripan karena teks metodologi yang standar, tambahkan frase “metode berdasarkan…” dan kutip sumber aslinya.
- Reparafrase bagian yang terlalu mirip atau kurangi kutipan panjang dengan ringkasan dan sitasi.
- Jika dituduh plagiarisme oleh jurnal:
- Respons cepat dan transparan: akui kekurangan jika ada, sertakan bukti catatan sumber dan draft sebelumnya.
- Jika ketidaksengajaan, usulkan revisi dan penambahan sitasi.
- Konsultasikan dengan tim etik di institusi dan dokumentasikan semua komunikasi.
Contoh Kasus Nyata (Hipotetik dan Praktis)
Kasus A (Disengaja): Seorang penulis mengirim artikel yang sebagian besar adalah salinan dari artikel berbahasa Inggris yang dipublikasikan sebelumnya; tidak ada sitasi. Editor menolak dan melaporkan ke institusi.
Kasus B (Tidak Disengaja): Mahasiswa menulis bab tinjauan pustaka dengan banyak kutipan namun lupa menyertakan referensi untuk dua paragraf yang berisi ringkasan—similarity tinggi muncul. Diberi kesempatan revisi setelah penjelasan dan perbaikan sitasi.
Konsekuensi Akademik dan Karir
Konsekuensi bervariasi dari peringatan formal, penolakan manuskrip, penarikan publikasi (retraction), hingga sanksi administratif di institusi (mis. skorsing). Dampak reputasional dapat menghambat peluang pendanaan, kolaborasi, dan kenaikan pangkat. Oleh karena itu pencegahan adalah investasi karir yang penting.
Peran Mahri Publisher dalam Mencegah dan Menangani Plagiarisme
Mahri Publisher hadir sebagai partner untuk dosen, peneliti, dan akademisi dalam proses publikasi yang meminimalkan risiko plagiarisme tidak disengaja melalui layanan seperti proofreading & paraphrasing academic, pre-submission review, cek plagiarisme Turnitin, serta pendampingan submit jurnal. Layanan kami mendukung penyesuaian template, sitasi internasional, serta penggunaan Mendeley sehingga penulis lebih siap submit ke jurnal terindeks Sinta atau internasional.
Jika Anda ingin mempercepat proses publikasi atau membutuhkan pendampingan teknis, kunjungi halaman layanan publikasi kami di Mahri Publisher – Publikasi atau lakukan pemesanan layanan melalui form order.
Strategi Pencegahan Jangka Panjang
Untuk membangun budaya etika publikasi yang kuat di lingkungan akademik, lakukan langkah-langkah berikut:
- Pelatihan literasi digital dan etika penulisan untuk mahasiswa dan staf (sesuai rekomendasi pendidikan karakter pada era digital).
- Kebijakan institusi yang jelas tentang plagiarisme dan prosedur penanganannya.
- Pemanfaatan tools manajemen referensi (Mendeley/Zotero) dan pengecekan similarity rutin.
- Implementasi pre-submission review sebagai standar sebelum submit ke jurnal bereputasi (termasuk jurnal terindeks Sinta).
Hubungan dengan Publikasi dan Jurnal Terindeks
Pelanggaran etika dapat memengaruhi peluang publikasi di jurnal terindeks (mis. Sinta, Scopus). SINTA pada 2026 dikelola oleh Kemdiktisaintek, dan jurnal yang terindeks memiliki standar etika yang semakin ketat. Penulis yang mematuhi praktik terbaik sitasi dan pengecekan kemiripan akan meningkatkan peluang diterima, terutama saat menargetkan jurnal dengan kuartil impact factor tertentu (impact factor quartile).
Kesimpulan
Membedakan antara plagiarisme yang disengaja dan tidak disengaja penting untuk menentukan langkah korektif dan mencegah dampak negatif pada karir akademik. Plagiarisme disengaja membawa konsekuensi lebih berat, sedangkan plagiarisme tidak disengaja dapat diminimalkan lewat pendidikan literasi, manajemen referensi, pengecekan similarity, dan pendampingan pre-submission. Untuk penulis yang membutuhkan bantuan teknis dan strategi publikasi — termasuk persiapan submit ke jurnal terindeks Sinta atau internasional — tim Mahri Publisher siap membantu. Butuh percepatan publikasi? Konsultasi gratis tim Mahri Publisher dapat membantu Anda mempersiapkan naskah yang etis dan siap submit: https://mahripublisher.com/publikasi/ atau mulai proses melalui form order.
Referensi
- Restianty, A. (2018). Literasi Digital, Sebuah Tantangan Baru Dalam Literasi Media. Jurnal Gunahumas. https://doi.org/10.17509/ghm.v1i1.28380
- Triyanto, T. (2020). Peluang dan tantangan pendidikan karakter di era digital. Jurnal Civics Media Kajian Kewarganegaraan. https://doi.org/10.21831/jc.v17i2.35476
- Muhali, M. (2019). Pembelajaran Inovatif Abad Ke-21. Jurnal e-Saintika. https://doi.org/10.36312/e-saintika.v3i2.126
- SINTA (Kemdiktisaintek). https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/
- Garuda (Portal Garuda). https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/
- ISSN Portal. https://portal.issn.org/
- Google Scholar. https://scholar.google.com/






![[FAQ] Berapa Kredit Publikasi di Jurnal Scopus untuk BKD?](https://mahripublisher.com/wp-content/uploads/2023/01/featured-image-5.png)




















